welcome

Rabu, 25 April 2012

kolaborasi dengan ahli lain

KOLABORASI DENGAN AHLI LAIN
A.    Pengertian Kolaborasi
Kolaborasi adalah bentuk kerjasama, interaksi, kompromi beberapa elemen yang terkait baik individu, lembaga dan atau pihak-pihak yang terlibat secara langsung dan tidak langsung yang menerima akibat dan manfaat. Nilai-nilai yang mendasari sebuah kolaborasi adalah tujuan yang sama, kesamaan persepsi, kemauan untuk berproses, saling memberikan manfaat, kejujuran, kasih sayang serta berbasis masyarakat. (CIFOR/PILI, 2005).
Kolaborasi menurut beberapa ahli
1.      Jonathan (2004) mendefinisikan kolaborasi sebagai proses interaksi di antara beberapa orang yang berkesinambungan.
2.      Menurut Kamus Heritage Amerika (2000), kolaborasi adalah bekerja bersama khususnya dalam usaha penggabungan pemikiran.
3.      Gray (1989) menggambarkan bahwa kolaborasi sebagai suatu proses berpikir dimana pihak yang terlibat memandang aspek-aspek perbedaan dari suatu masalah serta menemukan solusi dari perbedaan tersebut dan keterbatasan pandangan mereka terhadap apa yang dapat dilakukan.
Dari berbagai definisi yang dikemukakan para ahli, dapat disimpulkan bahwa kolaborasi adalah suatu proses interaksi yang kompleks dan beragam, yang melibatkan beberapa orang untuk bekerja sama dengan menggabungkan pemikiran secara berkesinambungan dalam menyikapi suatu hal dimana setiap pihak yang terlibat saling ketergantungan di dalamnya. Apapun bentuk dan tempatnya, kolaborasi meliputi suatu pertukaran pandangan atau ide yang memberikan perspektif kepada seluruh kolaborator.
Menurut Carpenter (1990), kolaborasi mempunyai 8 karakteristik, yaitu:
  1. Partisipasi tidak dibatasi dan tidak hirarkis.
  2. Partisipan bertanggung jawab dalam memastikan pencapaian kesuksesan.
  3. Adanya tujuan yang masuk akal.
  4. Ada pendefinisian masalah.
  5. Partisipan saling mendidik atau mengajar satu sama lain.
  6. Adanya identifikasi dan pengujian terhadap berbagi pilihan.
  7. Implementasi solusi dibagi kepada beberapa partisipan yang terlibat.
  8. Partisipan selalu mengetahui perkembangan situasi
A.    Elemen kunci efektifitas kolaborasi
  1. Kerjasama menghargai pendapat konseli dan bersedia untuk memeriksa beberapa alternatif pendapat dan perubahan kepercayaan.
  2. Asertivitas  merupakan hal yang penting ketika konseli dalam tim mendukung pendapat mereka dengan keyakinan. Tindakan asertif menjamin bahwa pendapatnya benar-benar didengar dan konsensus untuk dicapai.
  3. Tanggung jawab  mendukung suatu keputusan yang diperoleh dari hasil konsensus dan harus terlibat dalam pelaksanaannya.
  4. Komunikasi setiap anggota bertanggung jawab untuk membagi informasi penting mengenai isu yang terkait..
  5. Konsep dengan arti yang sama mutualitas dimana individu mengartikannya sebagai suatu hubungan yang memfasilitasi proses dinamis antara orang-orang yang ditandai oleh keinginan maju untuk mencapai tujuan dan kepuasan setiap anggota.
  6. Kepercayaan konsep umum untuk semua elemen kolaborasi. Tanpa rasa pecaya,  kerjasama tidak akan ada, asertif menjadi ancaman, menghindar dari tanggung jawab, terganggunya komunikasi.
B.     Tujuan Kolaborasi dengan Ahli Lain secara Umum
1.      Menjalin hubungan baik antar konselor,konseli serta pihak lain sehingga ketika terjadi permasalahan yang membutuhkan pihak ahli konselor dapat dengan mudah melakukan penanganan.
2.      Konselor mampu membantu siswa menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan baik
3.      Memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan konseli melalui ahli-ahli lain
C.      Berbagai Bentuk Kolaborasi dengan Ahli Lain
1.      Dengan Pejabat Struktural
Pejabat structural adalah orang-orang yang disertai tanggug jawab mengelola keseluruhan program pendidikan di institusi pendidikan dalam berbagai aspeknya,seperti kepala sekolah sebagai pemimpin tertinggi wakil kepala sekolah bidang pengajaran dan wakil sekolah bidang pembinaan siswa.
Bagi pejabat-pejabat structural ini konselor sekolah merupakan narasumber yang sangat berarti karena konselor sekolah mengetahui banyak tentang populasi siswa.
Namun peranan konselor sekolah sebagai konsultan bagi pejabat structural tidak tinggal terbatas pada menjadi narasumber saja. Dalam kasus-kasus tertentu yang menyangkut jalannya kehidupan sekolah,seorang pejabat structural akan menghubungi konselor sekolah untuk membicarakan permasalahn yang belum terselesaikan secara tuntas atau membahas garis-garis kebijaksanaan yang sebaiknya diambil. Oleh karena itu,pembicaraan antara konselor sekolah lebih berfokus pada permasalahan yang dihadapi ,namun tidak berarti bahwa konsultan dapat mengabaikan aspek komunikasi antarpribadi.
Hasil pembicaraan konsultatif antara pejabat structural dan konselor sekolah dapat mempunyai dampak yang luas,karena setiap perubahan positif dalam lingkungan institusi sekolah mempengaruhi populasi siswa,bahkan staf tenaga kependidkan yang lain.
Konselor sekolah dapat menghubungi seorang pejabat structural atas inisiatifnya,bila ia mengetahui ada permasalahan yang menyangkut suasana lingkungan seklah dan mekut suasana lingkungan seklah dan menibulkan efek-efek sangat negative. Dalam hal ini konselor sekolah harus mengutarakan fakta yang diketahui secara objektif,tanpa membuka rahasia pribadi siswa dan menyatakan kerelaan untuk ikut membantu menyelesaikan seandainya pejabat structural minta sumbangan pikiran.
Dengan demikian konselor sekolah tidak mengambil oper tanggung jawab dari pejabat structural dan tidak ingin menggantikan kedudukan pejabat itu,tetapi hanya menyampaikan rasa keprihatinannya. Pembicaraan ini dapat menjadi titik awal dari proses perubahan terhadap system social sekolah di mana konselor sekilah terlibat sebagai konsultan
2.      Kolaborasi dengan psikiater
Berdasarkan situasi kritis,konselor perlu menerima situasi dan menciptakan keseimbangan pribadi dan penguasaan diri. Situasi-situasi krisis dapat berupa masalah-masalah percobaan bunuh diri,kehamilan yang tidak dikehendaki,kematian dan narkoba. Hal demikian diperlukan tipe sikap dasar yang menyakinkan dari konselor seperti meredahkan kecemasan klien. Konselor dapat mengatasi situasi sementara itu dan selanjutnya klien dalam kancah develommental. Sehingga dibutuhkan kolaborasi  dengan psikiater melalui dukungan tinggi dan konseli harus menerima pengobatan yang lebih dalam
3.       Kolaborasi dengan Lembaga Kesehatan
Pihak sekolah terutama konselor melakukan hubungan dengan lembaga kesehatan. Hal itu dilakukan agar siswa – siswi mengetahui pentingnya menjaga kesehatan serta kebersihan baik lingkungan maupun pribadi. Hal itu perlu diberikan sesegera mungkin agar siswa dapat mengntisipasi berbagai penyakit yang kemungkinan menyerang siswa. Selain itu bagi beberapa pihak kesehatan yang memiliki pengalaman lebih mampu berbagi cerita sehingga siswa-siswi memiliki motivasi tersendiri untu mencapai mimpinya.
4.      Kolaborasi dengan Pihak Berwenang (polisi)
Ketika awal masuk skolah (MOS) seorang konselor memberikan penjelasan tentang peraturan-peraturan yang berlaku. Kemudian melakukan kerjasama atau kontak dengan polisi untuk memberikan penjelasan bahaya yang timbul saat siswa melanggar peraturan yang berhubungan dengan tindak criminal seperti mencuri,minum-minuman keras,menggunakan narkoba dll. Selain itu polisi juga bisa memberikan penjelasan kenakalan remaja yang berada diluar lingkungan yag harus diwaspadai. Saat terjadi permasalahan di sekolah yang berkaitan dengan tindak criminal seorang konselor dapat member tahukan pada polisi,
 Dengan kolaborasi tersebut siswa memahami dan menjadi lebih waspada terhadap berbagai pergaulan di masyarakat serta peraturan yang berlaku di sekolah. Selain itu siswa menjadi sadar akan bahaya yang terjadi saat ia melakukan tindak criminal.
5.       Kolaborasi dengan DEPNAKER
Kerjasama dengan pihak DEPNAKER bertujuan untuk membantu konseli dalam bimbingan karir. Dengan kerjasama ini konselor mengetahui lowongan-lowongan kerja di berbagai daerah dan mengetahui perkembangan yang terjadi di lingkungan kerja serta hal-hal yang dibutuhkan untuk membantu siswa mendapatkan pekerjaan. Selain itu untuk siswa terutama SMK dapat mengembangkan keterampilannya dengan optimal dan siap menghadapi persaingan di dunia kerja.
Hal demikian perlu diberikan sesegera mungkin agar siswa mampu memutuskan pilihan karirnya dan mampu mengembangkan karir yang menjadi pilihannya. Sehingga kedepannya siswa tidak salah dalam memilih pekerjaan.

D.    Hubungan Kolaborasi dengan Berbagai Aspek

a.      Hubungan dengan Aspek Pribadi-Sosial
1.      Awal untuk mereferal (mengalihtangankan) siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing
2.      Memiliki kesadaran tanggung jawab social dalam bentuk; mengembangkan pola-pola perilaku sosial berdasarkan prinsip kesamaan (equality),menghayati nilai-nilai kesamaan (equality) sebagai dasar berinteraksi dalamkehidupan masyarakat luas, memelihara nilai-nilai persahabatan dankeharmonisan dalam berinteraksi dengan orang lain
3.        Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
4.      Mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat.
5.       Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria dan wanita.
6.      Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan yang lebih luas.
b.      Hubungan dengan Aspek Akademik
1.       membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar melalui program remedial teaching;
2.      Memberikan informasi tentang kaitan mata pelajaran dengan bidang kerja yang diminati siswa;
3.      Memberikan informasi tentang cara-cara mempelajari mata  pelajaran yang diberikannya secara efektif.
4.      Pihak sekolah mengetahui kegiatan ekstrakurikuler yang dibina sekolah mengandung pedagogis yang besar asal tidak berada diluar jangkauan kemampuan ekonomis siswa dan tidak terlalu jauh berbeda dengan kegiatan-kegiatan yang disukai anak remaja
c.       Hubungan dengan Aspek Karir
1.      Memahami perkembangan dunia industri atau perusahaan, sehingga dapat memberikan informasi yang luas kepada siswa tentang dunia kerja (tuntutan keahlian kerja, suasana kerja, persyaratan kerja, dan prospek kerja)
2.      Memberikan informasi tentang harapan dan kekecewaan yang dirasakan orang tua,sehingga akan membantu dalam proses pemilihan karir
3.      Memiliki wawasan informasi yang terkait dengan perencanaan dan pilihan karir dan  kesiapan karir
4.      Memelihara penguasaan perilaku, nilai dan kompetensi yang mendukung pilihan karir
5.        Mengenal kemampuan, bakat, dan minatr serta arah kecenderungan karir dan apresiasi seni.

E.     Bentuk Pelaksanaan Kolaborasi dengan Ahli lain
1.      Perencanaan
Perencanaan merupakan hal-hal yang di perlukan sebelum kegiatan dilaksanakan. Sehingga saat konselor akan melakukan kolabrasi dengan ahli lain maka dibutuhkan suatu rancangan untuk menunjang terlaksananya layanan yang diberikan. Ada beberapa rencana yang perlu disiapkan untuk membantu mencapai keberhasilan tersebut.
a.       Melakukan komunikasi dengan pihak sekolah
b.      Menyiapkan anggaran dana yang akan digunakan untuk pelaksanaan kegiatan
c.       Memilih intansi yang akan dijadikan narasumber
d.      Melakukan komunikasi dengan ahli-ahli lain,saat akan megadakan acara seperti seminar
e.       Menentukan lokasi yang akan dijadikan tempat seminar
f.       Melakukan kesepakatan waktu pengadaan kegiatan
2.      Pelaksanaan
a.       Menyediakan berbagai fasilitas yang dibutuhkan dalam kegiatan
b.      Mencari berbagai informasi yang bekaitan dengan apa yang dibutuhkan konseli yang membutuhkan penjelasan dari ahli lain
3.      Evaluasi
Evaluasi adalah cara yang ditempuh oleh pembimbing untuk membandingkan hasil yang telah dicapai dengan tujuan pelayanan Bimbingan dan Konseling. Dengan kata lain penilaian yang dilakukan terhadap kegiatan Bimbingan dan Konseling ditujukan untuk menilai  kesesuaian program, pelaksanaan yang dilakukan oleh para petugas Bimbingan, dan hasil yang diperoleh dari pelaksanaan program tersebut. Penilaian tersebut berkaitan dengan 3 aspek,yaitu
1.      Penilaian terhadap program layanan
2.      Penilaian terhadap proses pelaksanaan program layanan
3.      Penilaian terhadap hasil (Product) dari pelaksanaan kegiatan pelayanan
Salah satu model yang dapat digunakan dalam kegiatan penilaian adalah model penilaian Stufflebeam’s yang terdiri atas empat kategori penilaian yaitu :
 1. evaluasi konteks yakni berkaitan dengan penyediaan informasi dan penetapan tujuan yang baik, lingkungan yang relevan, dan identifikasi masalah yang berhubungan dengan program atau kegiatan,
2. evaluasi input yakni berkaitan dengan penentuan memanfaatkan input dalam mencapai tujuan,
3. evaluasi proses yakni berkaitan dengan pemberian umpan balik secara periodik dalam pelaksanaan program, dan
4. evaluasi hasil yakni berkaitan dengan pengukuran pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya
Dari hal tersebut evaluasi yang dilakukan setelah melakukan layanan kolaborasi dengan ahli lain diberikan adalah kelancaran kegiatan,kesulitan-kesulitan yang terjadi,serta perbaikan yang dilakukan untuk menghadapi kegiatan selanjutnya.

DAFTAR RUJUKAN
·         Rosyid.2010.Bimbingan dan Konseling di sekolah.
·         Santoso,Djoko Budi.2009.Bimbingan dan Konseling di Sekolah.Malang : Tanpa Penerbit
·         SJ,WS Winkel.1991.Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan.JakartPT Grasindo
·         _______.2011.Evaluasi program bimbingan dan konseling di sekolah.(Online) (http://mariberlari.blogspot.com/2011/03/evaluasi-program-bimbingan-konseling.html). Diakses tanggal 3 Maret 2011
·         _______. Penilian Bimbingan dan Konseling di Sekolah
(Onlie)(http://lembahgurah.multiply.com/journal/item/16/PENILAIAN_BIMBINGAN_KONSELING_DI_SEKOLAH_DAN_IMPLIKASI_PENGELOLAANNYA?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2F ). Daiakses tanggal 13 April 2012
·         _______.Definisi Kolaborasi.(Online).(http://ecopedia.wordpress.com/).
 Diakses 14 April 2012

oleh
ayu nurbaiti
elsa purwitasari
nur lailatul khoiriyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar